Hal ini dilakukan, selain menjadi bentuk antisipasi bila seragam anak kotor, juga menjadi bagian dari pembelajaran kemandirian anak untuk memakai baju sendiri.
Jangan tanya baunya. Hmmmm asem2 sedap, enaaaak. Apalagi bagian ketinya. Ya kalau keti anak2 baunya enak, kalau kamu, oh sori ya. Jibro, jijik broooooh!
Jadi, ganti di sekolah dirasa jadi cara untuk mengurangi aroma utu, karena tak jarang juga ada banyak aktivitas fusik di sekolah. Tau sendiri kan, anak2 kalau dikasih kesempatan lari2..
Selain itu, ganti baju di sekolah juga menjadi momentum belajar pakai baju sendiri. Di saat anak g ada ibuk bapaknya, biasanya anak lebih mandiri. Jadi anak bisa belajar teknik pakai baju sendiri, tanpa didampingi ortu.
Tau sendiri juga kan, kalau ada ortunya sepertinya anak juga cenderung lebih manja. Selain itu bbrp ortu juga cenderung gupuh untuk membantu, padahal anak sudah bisa. Anak juga sbnrnya sudah bisa, tapi karena ada kehadiran ortunya, dia lebih suka untuk minta tolong. Iya se, akuilah..
Dari sini, anak bisa belajar motorik halus berupa hal sepele seperti mengancingkan baju, memasukkan tangan ke lubang baju yang bagian mana, memahami struktur baju, dan masih banyak lagi.
Mengenai teknis ganti bajunya, emak bakpau krg paham. Apakah bareng2 di kelas atau sendiri. Yang jelas, bu guru pasti membantu sedikit2, tapi tetap menstimulasi anak2 untuk ganti baju sendiri.
Pun kalau misalnya bareng2 di kelas antara laki2 sama perempuan, apa yang mereka pikirkan gituh? Astagaa usia segitu mana ada pikiran ngeres. Mereka masih suci l, broo... G kayak kamu yg kotor mulu pikirannya.
Anak2 juga jadi lebih fresh dan nyaman dengan baju rumahnya. Jadi jangan heran, kalau anak PG-TK al iman itu berangkatnya baju apa, pulangnya baju apa.
Pengalaman Si Bakpau selama mengenyam pendidikan di Kelas Pelangi Pra-Play Group Al-Iman Jombang


Tidak ada komentar:
Posting Komentar