Bapaknya
bakpau nggegeri bilang anaknya bahaya kalau naik sepeda duduk depan sendirian
bareng emaknya. Harus ada pengamannya segala lah ini itulah. Dengan gupunya dia
membelikan sabuk motor yang lagi ngetren dll. Tapi ujung-ujungnya si anak malah
gak mau pakai.
Pas pulang
sekolah dan gak repot, emak bakpau pun beli kursi bareng Cak Joko di tikungan
klentheng Jombang. Kebetulan di situ lagi ada yang jual kursi rotan untuk
dudukan anak di sepeda motor matic yang oke punya menurut guweh dan bisa
diaplikasikan untuk Si bakpau.
Agak mahal
sih. Dari hariga 120 jutawar jadi 100. Padahal dari desas desus harganya hanya
50. Tapi berhubung guweh buru2 dan ndang perlu jadi ya asal samber aja. Awalnya
bakpau pilih yang doraemon. Tapi akhirnya kupilihkan yang tayo karena gambarnya
lebih menarik. Untungnya dia tetap mau.
Alhamdulillah,
dalam pemakaian pertama dia tampak senang menggunakannya, lebih nyaman pula. Masuk
sekolahnya tak seberapa rewel dan gak perlu ditilap. Semoga lanjut positif
seperti ini.
Dulu sering lihat orang pakai ini untuk anaknya. Sering juga lihat orang bawa sabuk untuk anaknya saat naik sepeda motor. Anaknya ditaleni supaya gak jatuh. Rupanya, sekarang kami sudah berada dalam fase ini, dimana kebutuhan untuk anak lebih penting. Tapi juga harus memperhatikan kenyamanan dan fungsi keselamatannya secara total.
Secara penggunaan, kursi lebih nyaman karena cukup seru duduk di depan. Tapi sabuk motor lebih aman karena anak lebih rapat dekat dengan orang tuanya. Menurut guweh, kursi lebih nyaman untuk jarak pendek seperti ini. Sedangkan kalau di Surabaya yang jarak jauh, macet banyak orang dll, lebih aman menggunakan sabuk motor anak.
Tapi gimana2 kesimpulannya, meski kita pilihkan barang ini itu, belum tentu anaknya cocok
dan mau pakai. Saat tak terduga, ada opsi lain dengan barang subititusi dengan
fungsi yang sama, anaknya malah mau dan senang pakainya. Demikianlah sepenggal
kisah kursi sepeda rotan pagi in. Mwahahahahhaa...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar